Ketika Ganja Mengganggu Kesehatan Mental

Jakarta: Pemerintah Indonesia didesak melegalkan ganja. Pasalnya ganja mempunyai banyak manfaat. Lalu seperti apakan efek ganja bagi mental sebenarnya? Secara khusus pemakaian ganja bagi individu yang sehat maupun yang sudah menderita gangguan jiwa mempunyai efek yang kurang baik.

Bagi individu yang sehat walaupun tidak langsung mempunyai hubungan sebab akibat, ganja menjadi pemicu terjadinya gejala-gejala psikosis dan psikopatologi lain. Dan bagi individu yang sudah mengalami gangguan jiwa, penggunaan ganja memperberat kondisi gangguan jiwanya.

Psikiater Consultation-Liaison dan Psikosomatik Medis, dr. Andri SpKJ menjelaskan sebenarnya efek ganja terhadap kesehatan mental pada pemakaian untuk rekreasi banyak diteliti. Walaupun beberapa kelompok yang mendukung legalisasi ganja memaparkan tidak ada kaitan antara penggunaan ganja dengan gangguan jiwa, bukti penelitian berkata sebaliknya.

Reaksi yang diharapkan dari penggunaan ganja, lanjut Andri, sebenarnya adalah perasaan tenang dan relaks, euforia, perubahan persepsi (warna menjadi lebih indah) perlambatan waktu serta peningkatan persepsi emosional dan pengalaman-pengalaman. Namun pada sebagian orang, yang terjadi adalah hal yang sebaliknya seperti depresi, paranoid, cemas, atau serangan panik.

“Bahkan penelitian mengatakan, percobaan memasukan THC secara intravena ke pasien dapat menghasilkan secara akut gejala-gejala defisit kognitif dan timbulnya gejala-gejala negatif yang menyerupai gejala pada gangguan psikotik kronis,” ujar Andri seperti dikutip dari KlikDokter, Kamis (12/5).

Hal ini pula yang membuat adanya suatu hipotesis adanya hubungan sistem endocannabinoid dalam patofisiologi skizofrenia. Penggunaan ganja yang kronis juga dihubungkan dengan mengecilnya daerah otak (hippocampus dan amygdala) yang berhubungan dengan psikosis, depresi, dan penurunan kognitif.

Andri memaparkan berbagai penelitian tentang ganja. Pada penelitian yang dimuat di jurnal Aust Fam Physician. 2010 Aug;39(8):554-7 berjudul Cannabis and Mental Health menyebutkan, penggunaan awal dan berat dari ganja dihubungkan dengan onset gejala psikosis dan depresi. Sedangkan penggunaan yang lama menghasilkan keluaran hasil yang lebih buruk di antara orang-orang yang sudah mengalami gangguan mental.

Untuk jurnal lain, Ann Pharm Fr. yang berjudul Induced Psychiatric and Somatic Disorders to Cannabis juga mengatakan penggunaan ganja berhubungan dengan timbulnya gejala psikosis dan kecemasan. Seperti juga zat psikoaktif lain, ganja bisa menjadi faktor yang mengeksaserbasi terjadinya psikopatologi pada pasien.

Di Forti dkk dalam Curr Opin Psychiatry, mengatakan penggunaan ganja pada remaja meningkatkan risiko terjadinya psikosis, terutama pada individu yang rentan. Seperti banyak penelitian lain, penelitian ini juga mengatakan bahwa pasien yang sudah menderita psikosis yang mengkonsumsi ganja akan memberikan hasil keluaran yang lebih buruk terhadap kesembuhannya.

“Hal ini karena hubungan efek ganja terhadap sistem dopamin. Penggunaan yang banyak dan kronis juga telah dihubungkan mempengaruhi memori dan performas belajar, baik terhadap individu yang sehat dan pasien yang psikosis,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s