Bos yang Kasar Jadi Pemotivator?

Yerusalem: Sindiran tajam yang terucap dari bos ataupun rekan kerja tentunya membuat jengkel. Bahkan dengan berkata kasar menunjukkan orang itu pengetahuannya rendah. Namun sebuah penelitian yang dilaporkan Journal of Applied Psychology berkata lain. Sarkasme alias berkata kasar ternyata merupakan motivator yang hebat.

Karyawan yang ditempatkan dengan bos atau rekan kerja yang sarkastik lebih kreatif dibandingkan mereka yang tidak. Mendengarkan komentar yang tajam setiap hari membuat Anda bekerja lebih keras dan lebih cerdas dibandingkan jika lingkungan kantor yang tidak peduli.

Para peneliti mengatakan bahwa terkena sindiran kasar membutuhkan banyak kompleksitas kognitif, atau kemampuan untuk melihat sesuatu lebih dari satu sudut. Memasukkan humor dalam berkomentar juga dapat mencairkan ketegangan akibat marah, Kamis (4/8).

Penelitian ini tentunya akan mengejutkan siapa pun memiliki bos yang senang menyindir karyawannya untuk mendapatkan yang terbaik dari mereka.

Dalam penelitian ini, peneliti dari Universitas Bar-Ilan di Israel meminta 375 mahasiswa teknik untuk membayangkan mereka adalah perwakilan customer service representative (CSR) yang menangani panggilan telepon. Mereka melakukan tiga tipe percakapan antara lain dengan agen CSR lainnya dan penelepon yang sedang marah, normal, atau sarkastis.

Mereka yang mendengar percakapan marah melakukan pekerjaannya lebih baik daripada yang netral saat diminta untuk melakukan tugas kreatif yang sederhana. Tetapi yang lebih mengejutkan adalah bahwa setelah mendengar penelepon yang sarkastis – yang menggunakan frase seperti ‘pelayanan Anda secepat kura-kura”- mereka memilih diam.

Para peneliti berspekulasi bahwa kemarahan menyebabkan seseorang mengadopsi langsung dengan berfokus pada keprihatinan seseorang untuk menghindari penderitaan lebih lanjut. Sarkasme memiliki efek yang lebih baik karena melibatkan berpikir tingkat tinggi dan kemampuan untuk memproses dua realitas sekaligus.

“Dengan sindiran tajam itu meningkatkan pemikiran kompleks dan memecahkan masalah kreativitas,” kata penulis penelitian Ella Miron-Spektor.(Dailymail/MEL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s